Mari Menikah!

bukan maksud menyinggung2 events yang sudah, sedang, dan akan terjadi.
menikah, maksudnya.

tapi karena kebetulan judulnya yang sangat berbahasa inggris padahal ini film indonesia. makanya mending saya terjemahkan aja ke dalam bahasa aslinya, bahasa indonesia. Yang komersilnya berjudul Get Married! menjadi Mari Menikah!

Jadi lebih enak di dengarnya kah? :)
Mungkin ironisnya disitu...

Dari judul yang kebarat-baratan ninggalin persepsi pertama tentang ke metropolisan sekelompokan anak-anak jakarta. ah tipikal.

Tunggu dulu.
Judul boleh barat layaknya Ashton Kutcher menikahi Brittany Murphy di hadapan bapak penghulu pastur. Tapi konsep cerita? yah, di persingkat, yang paling bule di film ini cuma si mbak2 pencuci rambut (why she has to be bule?) dan si mas2 bule-indo nan kaya dan ganteng pujaan hati nirina zubir. They are the bules you would see in the movie, at most. Selebihnya? Mari Menikah sangat Jakarta sekali!

dengan celetukan2 Hanung Bramantyo (eh penulis skrip siapa sih?) yang menunjukan ke'sederhanaan' akan kota Jakarta. Di balik segala gemerlap gelimang metropolitan yang kita liat di Arisan, Sinetron Punjabi, dan Jatuh cinta sama Eiffel... kita diajak masuk ke pelosok2 kota Jakarta yang seasli2nya... seIndonesia-Indonesianya.

Mungkin saat itu waktunya tepat untuk menayangkan film ini... dan judul yang sangat tepat.
dengan semua gedung, catering, salon fully booked dalam setaun untuk event 'kekeluargaan' bertopengkan 'resepsi pernikahan' itu. Yang seluruh Jakarta direpotkan dengan pengaturan jadwal untuk undangan si anu dan si inu. Sabtu Minggu, jadwal penuh. Bukan.. bukan. Bukan ngemol, nonton, makan, ato apalah kegiatan anak muda sekarang. Boro-boro ke gereja? iya gak? Yang ada mereka ngendon ke gedung satu dan yang lainnya. Paling pol si eneng pake kebaya seksi, si abang pake batik necis. Maju deh nemuin dua mempelai yang udah nerusin ke garda depan.

Hal yang sama diceritakan oleh Hanung Bramantyo ini. Although, entah sih maunya dia apa saat kedapetan skrip film ini. Tapi menurut saya sih, waktunya pas banget disaat semua anak gadis dan den bagus udah di umur yang 'mateng' dan langsung disuruh (ato mau?) berbondong2 ngadain 'acara keluarga' besar2an itu untuk memproklamirkan kemantapan mereka. Mungkin si pembuat skrip dapet ide setelah jadwal weekendnya penuh dengan undangan ke gedung ini itu kali ya??? Yang pastinya, timingnya pas.

Pemilihan pemain2nya juga handal. Si Aming bertampang konyol tidak dibuat2 itu udah bikin ngakak terjungkir2. Ringgo yang berusaha melucu dengan tampang cupunya itu seperti anak 10 taun yang lagi imut2nya. Desta... well, sorry to say, dia yang paling normal diantara dua manusia2 ajaib di trio kwek kwek ini. Nirina.. surprisingly, sangat sederhana. She's the girl next door, without the glam make-up. Love her! but love aming dan ringgo at most!!!

Ada satu adegan yang bikin gue agak2 merasa hipokrit. Disatu sisi, untuk 5 menit (kira2) adegan itu cukup membuat gue megap2 ambil nafas buat ngelanjutin ketawa. Tapi di sisi lain, gue merasa seperti Bart Simpson yang menertawakan kebrutalan Itchy and Scratchy di layar kaca dia. Tau dong adegan mana yang gue maksudkan? Ya ya ya. adegan tawuran! Coba kalo kita liat tawuran yang dikemas salah satu stasiun tv nasional kita dalam acaranya 'sergap dan siletkan!!' (ini misalkan!), pasti penonton yang 'beredukasi dan berwawasan tinggi' akan bertingkah sok righteous dan mengumpat2 dengan bahasa kamus setaraf merriam-webster. Lah, ini. Kemasan Hanung Bramantyo malah membuat kita ketawa ngakak ngikik cuma karena ada Aming dan Ringgo nyelip di dalamnya. Ternyata udah saatnya tawuran bisa dianggap lucu untuk khalayak banyak. Ato seperti yang gue pernah denger dari seorang komedian, you have to find the funny in everything. and BAM! there you go. you get "Get Married!" The movie.


Get Married! ato menurut versi saya: Mari Menikah! adalah film patut di tonton disaat kalian perlu di tendang2 dengan banyolan2 konyol tapi nggak membodohkan iman. hehehe

Kalo begini jadinya, gue sangat kangen Jakarta!!!!!!!!!!!!!

0 comments:

About Me

My photo
A Blank Canvas, Ready to be painted. Contemplation at its best. A personal Journey...

goBlog